PADANG – Aliran air bersih akhirnya benar-benar menyapa rumah-rumah warga Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Senin (9/2/2026). Momentum itu menjadi penanda harapan baru setelah masa sulit pascabencana, saat kebutuhan dasar sempat menjadi persoalan paling mendesak bagi masyarakat setempat.
Di tengah suasana penuh antusias, sosok Kepala Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Padang, Mai Yudiansyah, A.Md.IP., S.Sos., M.H., tampak hadir langsung mendampingi Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Barat, Kunrat Kasmiri, A.Md.IP., S.Sos., M.AP. Kehadiran Karutan Padang bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi penegasan bahwa jajaran pemasyarakatan juga memikul tanggung jawab sosial di tengah masyarakat.
Sejak pagi, warga telah berkumpul di lokasi sumur bor. Raut wajah penuh harap terlihat jelas, menggambarkan betapa krusialnya air bersih bagi keberlangsungan hidup mereka. Selama berbulan-bulan, sebagian warga harus berjalan cukup jauh hanya untuk mendapatkan air, bahkan harus mengantre demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Program pembangunan sumur bor yang digagas Kanwil Ditjenpas Sumbar ini menjadi jawaban atas kondisi tersebut. Air bersih yang kini mengalir dinilai sebagai langkah konkret menghadirkan kembali rasa aman dan layak dalam kehidupan warga, terutama dalam aspek kesehatan dan kebersihan lingkungan.
Mai Yudiansyah menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif kemanusiaan tersebut. Ia menekankan bahwa air bersih bukan sekadar fasilitas, melainkan kebutuhan mendasar yang berkaitan langsung dengan martabat manusia. Menurutnya, pemasyarakatan tidak boleh dipandang semata-mata dari sisi pembinaan warga binaan, tetapi juga dari kontribusi nyata kepada masyarakat luas.
“Pemasyarakatan juga hadir sebagai bagian dari masyarakat. Dalam situasi pascabencana, sudah semestinya kita ikut bergerak membantu pemenuhan kebutuhan dasar warga,” tegasnya.
Prosesi peresmian berlangsung sederhana namun sarat makna. Saat kran dibuka dan air jernih mengalir deras, tepuk tangan warga pecah. Senyum dan rasa syukur tak terbendung. Bagi masyarakat Kapalo Koto Pauh, air itu bukan hanya untuk diminum atau mandi, tetapi simbol bangkitnya kehidupan setelah masa sulit.
Tokoh masyarakat setempat menyebut fasilitas ini sebagai bantuan yang sangat ditunggu. Selain meringankan beban warga, sumur bor tersebut diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang, terutama saat musim kemarau yang selama ini kerap memicu krisis air.
Lebih jauh, keberadaan fasilitas air bersih ini juga diharapkan menumbuhkan kesadaran kolektif warga untuk menjaga kebersihan lingkungan dan merawat sarana umum. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga oleh generasi berikutnya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang memperkuat sinergi antara Kanwil Ditjenpas Sumbar, Rutan Kelas IIB Padang, pemerintah setempat, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak bisa berjalan sendiri, melainkan membutuhkan kepedulian bersama.
Melalui peresmian sumur bor ini, Mai Yudiansyah menegaskan bahwa kehadiran negara dapat diwujudkan lewat aksi nyata yang langsung menyentuh kebutuhan rakyat. Dari lingkungan pemasyarakatan, kepedulian itu kini mengalir bersama air bersih menuju rumah-rumah warga Kapalo Koto Pauh.
EYS

0 Komentar